PENCARIAN

Memuat...

Senin, 22 Oktober 2012

Tujuan Mencari Ilmu 3

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Kita harus memahami juga untuk apa kita hidup di dunia ini. Allah menciptakan makhluknya hanya untuk beriman dan bertakwa kepadaNya. Jadi semua hal di dunia yang telah dan akan kita lakukan, semua ditujukan hanya pada Allah. Cara-caranya adalah dengan senantiasa melakukan perbuatan baik.
Dalam hal ini ilmu adalah salah satu perbuatan baik yang memiliki dampak positif. Dampak tersebut bisa diterima bagi penerima maupun pemberi ilmu. Itulah arti penting ilmu yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Setiap hal di dunia memerlukan ilmu. Sebab kelebihan yang dimiliki manusia adalah akal. Dengan akal maka manusia dapat berpikir dan mempergunakan pikirannya untuk memperoleh dan mengamalkan ilmu. Menuntut ilmu sebaiknya jangan dianggap kewajiban tetapi sebuah kebutuhan yang asasi dan sangat penting.
B.     Pokok Permasalahan.
Sebagaimana yang Penulis uraikan dalam latar belakang masalah di atas, dalam makalah ini akan kami bahas beberapa masalah yang terkait dengan tujuan menuntut ilmu. Langkah apa yang harus kita lakukan setelah mendapatkan ilmu?
C.    Tujuan Pembahasan
Dalam penulisan makalah ini kami akan menjelaskan apa saja yang harus dilakukan oleh seseorang yang mempunyai ilmu.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hadits Pertama
Telah dimaklumi bahwa mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Dalam masalah ini tidak ada tawar-menawar. Ia wajib menuntut ilmu untuk beramal dan beramal berdasarkan ilmu. Setelah itu, ia pun mempunyai kewajiban untu menyebarkan atau mendakwahkan ilmu yang telah ia pelajari dan amalkan.
Penuntut ilmu memiliki banyak keutamaan yang mungkin tidak akan diperoleh selainnya, di antaranya:
1.    Allah Ta’ala akan meninggikan derajatnya.
2.    Ilmu adalah warisan para Nabi.
3.    Tanda bahwa Allah menginginkan kebaikan.
4.    Ilmu adalah jalan menuju surga.
5.    Para malaikat, makhluk-makhluk-Nya di muka bumi hingga ikan-ikan yang ada di dasar laut akan memintakan ampun untuknya.
6.    Orang berilmu jika disbanding dengan ahli ibadah bagaikan bulan purnama dibanding bintang-bintang di langit.

Di samping itu, seorang muslim yang mempelajariilmu lalu mengajarkan kepada  saudaranya sesungguhnya mereka telah bersedekah dengan sebaik-baik sedekah. Rasulullah Saw bersabda:
أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمَرْءُ الْمُسْلِمُ عِلْمًا ثُمَّ يُعَلِّمَهُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
"Sedekah yang paling utama adalah seorang muslim yang mempelajari satu disiplin ilmu kemudian mengajarkannya kepada saudaranya sesama muslim." (HR. Ibnu Majah)[1]

Sedekah yang paling utama
:
أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ
Jika Mempelajari
:
أَنْ يَتَعَلَّمَ
Seorang
:
الْمَرْءُ
Muslim
:
الْمُسْلِمُ
Ilmu
:
عِلْمًا
Kemudian mengajarkan ilmunya
:
ثُمَّ يُعَلِّمَهُ
Kepada saudaranya
:
أَخَاهُ
Yang muslim
:
الْمُسْلِمَ

B.     Hadits Kedua
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :



Dan ceritakanlah dari padaku. Tidak ada keberatan bagimu untuk menceritakan apa yang kamu dengar dari padaku Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka” (Shahih Bukhari)
Atas namaku
:
عَلَيَّ

Dan diceritakan
:
وحدثوا
Dengan sengaja
:
مُتَعَمِّدًا،

Dariku
:
عني
Maka dia menempati
:
فَلْيَتَبَوَّأْ

Tidak keberatan untuk menceritakan
:
ولا حرج
Tempat duduknya
:
مَقْعَدَهُ

Dari apa yang kamu dengar
:
سامع من
Di neraka
:
مِنْ النَّارِ

Barang siapa
:
وَمَنْ




Berdusta
:
كَذَبَ

Dari hadits Rasulullah SAW di atas, dapat dimengerti bahwasanya Rasulullah SAW. menghendaki dan memerintahkan agar semua sahabat untuk menghafal dan menyebarkan hadits-hadits Rasul serta ayat-ayat al-Qur’an. Jadi, beliau memerintahkan para sahabat agar menyebarkan ajaran agama Islam. Sabda Rasulullah SAW. tersebut dilatarbelakangi oleh keadaan para sahabat saat itu dan juga kepentingan penyiar Islam.
Beberapa kandungan arti dari beberapa hadits Nabi antara lain:
1.      Di antara para Sahabat, banyak yang kuat ingatannya.
2.      Di antara para sahabat, kadang ada yang tidak hadir pada saat Rasulullah menyampaikan ajaran-ajaran Islam, baik dalam bentuk penyampaian wahyu (ayat-ayat yang turun), maupun berbentuk hadits atau sunnah.
Ketidakhadiran di antara Sahabat itu kemungkinan disebabkan beberapa hal antara lain:
1.    Tempat tinggal yang jauh
2.    Kesibukkan tugas sehari-hari
3.    Malu bertanya secara langsung kepada Rasulullah tentang suatu masalah. (Misalnya, ‘Ali pernah meminta tolong kepada temannya, untuk menanyakan tentang masalah hukum air madzi kepada Rasulullah. ‘Ali rupanya malu bertanya langsung. Mungkin karena hubungan kekerabatan, sebab adalah menantu Nabi, sedang yang ditanyakan berhubungan dengan sesuatu yang sangat bersifat pribadi).
4.    Bahwa tugas untuk mengembangkan ajaran Islam, adalah kewajiban bagi setiap individu muslim.
Maka berhati-hatilah dari berdusta atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan mengatakan seseuatu dari beliau padahal tidak demikian. Oleh karena itu jika kita melihat riwayat Shahih Muslim di awal-awal nya adalah ucapan para sahabat yang sebenarnya berat untuk mengucapkan hadits-hadits nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Hurairah RA berkata :
“ jika bukan karena aku telah mendengar hadits nabi بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً  (sampaikanlah (sesuatu) dariku meskipun satu ayat), maka tidak akan aku mengeluarkan 1hadits pun dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”,
Karena takut dan khawatir jika ada kesalahan atau salah ucap dalam menyampaikan hadits-hadits tersebut. Maka banyak dari para sahabat yang diam dan tidak mau berbicara tentang hadits rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, banyak para sahabat yang tidak meriwayatkan satu hadits pun karena takut termasuk dalam hadits ini, diantaranya yg sangat sedikit meriwayatkan hadits adalah sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw dimana jika beliau ingin menyampaikan maka yang beliau lebih banyak menyampaikan adalah ucapannya, beliau tidak berani mengucapka perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam padahal beliau tahu banyak tentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.[2]
C.    Hadits Ketiga

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Barangsiapa ditanya mengenai suatu ilmu dan ia menyembunyikannya, maka ia akan dicambuk dengan cambuk dari api neraka pada hari kiamat." (HR. Abu Daud)
Barang siapa
:
مَنْ
Ditanya
:
سُئِلَ
Suatu ilmu
:
عِلْمٍ عَنْ
orang tersebut menyembunyikanya
:
فَكَتَمَهُ
Allah akan menyambuknya
:
اللَّهُ أَلْجَمَهُ
Dengan cambuk
:
بِلِجَامٍ
Dari api neraka
:
نَارٍ مِنْ
Pada hari kiyamat
:
الْقِيَامَةِ يَوْمَ

Dimasa sekarang ini kita sangat membutuhkan tipologi ulama-ulama akhirat terlahir kembali. Tipe ulama sekaligus pejuang. Oleh karena itu saya menamainya dengan istilah ulama akhirat. Ulama akhirat adalah ulama yang mendedikasikan segala amanah ilmu yang dimilikinya untuk perjuangan mengentaskan umat dari kegelapan menuju cahaya ilahi.
Sekarang ini kondisi umat islam telah betul-betul terjajah, baik terjajah secara fisik maupun pemikirannya. Penjajah kufur telah menduduki negeri-negari kaum muslimin dengan melakukan hard power maupun smart power. Hard power dilakukan dengan menjajah secara militer merampas, kekuasaan negeri islam, menghabisi ribuan nyawa serta merobek-robek harga diri umat islam. Smart power juga ditempuh dengan melakukan kerjasama-kerjasama komprehensif disegala bidang , dimana sejatinya adalah bentuk hegemoni yang sifatnya soft untuk mengendalikan/merampas ekonomi dan kekuasaan politik negeri islam.[3]
Fenomena ini harus disadari oleh para ulama. Mereka tidak boleh terlena dengan fasilitas keilmuannya dengan membatasi diri di dinding-dinding universitas, terlena dengan mengejar jenjang status keilmuannya, bangku-bangku pesantren dengan ribuan santri atau jabatan organisasi massanya hingga menutup mata terhadap kondisi umat yang terpuruk.
Sekarang ini umat membutuhkan sosok ulama pejuang yang rela mengorbankan hidupnya yang pendek terlibat dalam perjuangan dakwah untuk membebaskan umat dari penjajahan Negara-negara kufur. Kalau mereka tidak melakukan hal yang demikian, harusnya mereka takut akan azab Allah swt terhadap ilmu yang telah diamanahkan kepadanya. Inilah prioritas agenda utama para ulama sekarang ini, dalam menghadapi persolan utama umat islam (al-qadhiyah masyiriyah) yaitu tidak diterapkannya syariah Islam dalam bingkai daulah khilafah.
Ulama sejati harus mempu menyuguhkan solusi bagi persoalan umat sekarang ini bukannya malah menyesatkannya dengan fatwa-fatwa yang membingungkan umat. Rasulullah saw bersabda;

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Barangsiapa ditanya mengenai suatu ilmu dan ia menyembunyikannya, maka ia akan dicambuk dengan cambuk dari api neraka pada hari kiamat." (HR. Abu Daud)
Jangan sampai Allah mencabut ilmu dari muka bumi dengan mewafatkan ulama-ulama yang mukhlis sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw ; [4]
"Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan". (HR. Bukhari)
‘Ala kulli hal, inilah sekelumit risalah yang perlu diperhatikan bagi para pecinta ilmu. Semoga bisa menjadi cambuk diri agar kita selalu mencintai ilmu melebihi cinta kita terhadap diri sendiri. Selamat bercinta dilautan samudera ilmuNya.[5]
öqs9ur $yJ¯Rr& Îû ÇÚöF{$# `ÏB >otyfx© ÒO»n=ø%r& ãóst7ø9$#ur ¼çnßJtƒ .`ÏB ¾ÍnÏ÷èt/ èpyèö7y 9çtø2r& $¨B ôNyÏÿtR àM»yJÎ=x. «!$# 3 ¨bÎ) ©!$# îƒÌtã ÒOŠÅ3ym ÇËÐÈ
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pada zaman sekarang ini kondisi umat islam telah betul-betul terjajah, baik terjajah secara fisik maupun pemikirannya. Penjajah kufur telah menduduki negeri-negari kaum muslimin dengan melakukan penjajahan yang jelas maupun penjajahan yang samar. Penjajahan yang jelas dilakukan dengan menjajah secara militer merampas kekuasaan negeri islam, menghabisi ribuan nyawa serta merobek-robek harga diri umat islam. Penjajahan yang samar juga ditempuh dengan melakukan kerjasama-kerjasama komprehensif disegala bidang, dimana sejatinya adalah bentuk hegemoni yang sifatnya soft untuk mengendalikan/merampas ekonomi dan kekuasaan politik negeri Islam.
Oleh karena itu para Ulama tidak boleh terlena dengan fasilitas keilmuannya dengan membatasi diri di dinding-dinding universitas, terlena dengan mengejar jenjang status keilmuannya, bangku-bangku pesantren dengan ribuan santri atau jabatan organisasi massanya hingga menutup mata terhadap kondisi umat yang terpuruk ini.
B.     Saran
Pemakalah memahami bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca dan hususnya dosen pembimbing. Dan kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amiiinnnn … Ya Robbal Alamiiin.

DAFTAR PUSTAKA
Software Qur’an in word
Kutub At-Tis’ah Online



[1] http://125.164.221.44/hadisonline/hadis9/copy_open.php?imam=ibnumajah&nohdt=239
[2] http://www.sarkub.com/2012/jangan-berdusta-atas-nama-nabi-saw/
[3] http://islam-full.blogspot.com/2011/01/risalah-bagi-pencinta-ilmu.html
[4] http://125.164.221.44/hadisonline/hadis9/copy_open.php?imam=bukhari&nohdt=98
[5] Software Qur’an in word, QS. Luqman : 27

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar