PENCARIAN

Memuat...

Minggu, 21 Oktober 2012

Makalah Hakekat Pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Pembinaan akhlak adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh anak untuk mewujudkan tidak mudah karena membutuhkan kerja keras dan kesabaran pendidik. Terlebih lagi menjadi anak yang berakhlak mulia. Hal ini merupakan tugas yang sangat besar. Diperlukan perhatian khusus dari pendidik keluarga, sekolah maupun masyarakat sekitarnya.
Pembinaan akhlak ini merupakan tumpuan perhatian dalam Islam. Hal ini dapat dilihat dari misi kerasulan Nabi yang utama adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Membicarakan akhlak atau moral, seringkali dihubungkan dengan generasi muda dan remaja. Sebab kenyataannya remaja ini yang cenderung melakukan perbuatan menyimpang dari nilai-nilai atau norma-norma agama. Kondisi remaja memungkinkan untuk bertindak di luar batas-batas norma yang berlaku dalam masyarakat. Sebab pada masa itu terjadi perubahan-perubahan besar dalam dirinya baik dari segi fisik maupun dari segi kejiwaan. Karena pada masa ini terjadi pertumbuhan jasmani yang cepat dan disertai dengan kegoncangan emosi dan ketidak pastian diri, kegoncangan inilah yang membawa perubahan pada tingkah lakunya. Pada usia inilah manusia mulai dituntut untuk melaksanakan kewajiban agama secara penuh karena telah mencapai usia baligh dan berakal.
B.       Rumusan Masalah
Sebagaimana yang pemakalah uraikan dalam latar belakang masalah di atas, dalam makalah ini akan kami bahas beberapa masalah yang terkait dengan hakikat pendidikan khususnya masalah akhlak, apa yang dimaksud dengan akhlak yang mulia itu?
C.      Tujuan Pembahasan
Dalam penulisan makalah ini kami ingin menjelaskan apa yang dimaksud dengan akhlak mulia itu.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hadits  بعثت لاتمم مكارم الاخلاق (رواه احمد )
Akhlaq menurut Etimologi. Al-Akhlak merupakan bentuk plural dari al-khuluq yang digunakan untuk mengistilahkan sebuah karakter dan tabiat dasar penciptaan manusia. Kata ini terdiri dari huruf kha-la-qa yang biasa digunakan untuk menghargai sesuatu.
Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman,
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam[68]: 4).
Akhlak mulia didalam ayat ini, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Ath-Thabari, bermakna tata karma yang tinggi; yaitu tatakrama Al-Qur’an yang telah Allah tanamkan  di dalam jiwa Rasul-Nya. Tata karma ini tercermin melalui Islam dan ajarannya. Makna ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas –radliyallahu ‘ahnuma- yang ketika itu menjabarkan makna dari ayat,
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung,”
Mujahid (seorang tabi’in) mengatakan hal serupa dalam menafsirkan firman Allah ‘Azza wa Jalla tersebut. Ia berkata, “yaitu beragama yang agung.”[1]
Imam Junaid Radhiyallahu’anhu menerangkan bahwa akhlak Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam dikatakan umat terpuji karena beliau hanya mengedepankan ajaran Allah.
Mengenai hal ini, Fairuz Abadi berkata, “Ketahuilah! Komponen utama agama Islam adalah akhlak. Jika seseorang memiliki akhlak yang lebih baik dari pada akhlakmu, berarti dia lebih tinggi derajatnya daripada dirimu dalam hal agama. Akhlak yang baik ini berdiri diatas empat pondasi, yaitu kesabaran, keberanian, keadilan, dan kesucian.”
Fairuz Abadi juga menyebutkan bahwa keempat pondasi tersebut saling menyeru akhlak sehingga dapat membawa sang pemilik akhlak untuk menerapkan akhlak mulia lainnya.
Dengan kesabaran, misalnya, seseorang dapat melatih diri untuk ditempa menahan emosi, menyingkirkan bahaya, bersikap waspada dan hati-hati, lemah-lembut dan santun, serta tidak tergesa-gesa dan sembrono. Disebutkan juga bahwa sikap tidak berlebihan dalam segala hal merupakan asas utama dari keempat akhlak mulia ini.
Pendidikan akhlak merupakan jiwa pendidikan Islam, karena salah satu tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai akhlak yang sempurna sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi :
عن ابي هريرة رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق (رواه بيهقي
Artinya : “Dari Abu Hurairah ra, berkata : bersabda Rasulullah SAW: sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia (HR Baihaqi)
Sesungguhnya aku diutus
:
انما بعثت
Untuk menyempurnakan
:
لاتمم
Akhlak manusia (Akhlak yang mulia)
:
مكارم الاخلاق

Hadits yang dikemukakan di atas dapat dipahami bahwa akhlak yang tinggi dalam kehidupan manusia merupakan hal yang penting sekali baik secara individu, masyarakat maupun bangsa.
Akhlah adalah tingkah laku, perangai dan budi pekerti yang merupakan pembinaan atau bersumber dari sifat jiwa seseorang.[2] Sumber dari segala kegiatan atau tingkah laku yang sewajarnya, yang timbul tanpa memerlukan pertimbangan terlebih dahulu, sehingga dengan demikian perbuatan atau tingkah laku itu merupakan kebiasaan yang lahir dengan sendirinya tanpa motif lain.
Agar tercapai akhlak yang mulia sesuai dengan tujuan pendidikan Islam harus melalui pendidikan akhlak, mengenai tujuan pendidikan Islam, menurut Muhammad Yunus adalah :
“Tujuan pendidikan Islam adalah pendidikan anak/pemuda dan orang dewasa supaya menjadi muslim sejati, sehingga ia menjadi salah seorang anggota masyarakat yang sanggup hidup di atas kaki sendiri, mengabdi kepada Allah dan berbakti kepada bangsa dan tanah airnya bahkan sesama umat manusia.[3]
Pendidikan agama merupakan hal yang sangat penting dan perlu ditanamkan kepada anak semenjak usia dini, dalam agama Islam sebenarnya dimulai jauh sebelum anak itu lahir, pendidikan serta penanaman jiwa agama pada anak harus berlanjut secara berangsur-angsur sampai menginjak dewasa. Dalam membentuk kepribadian yang utama sesuai dengan ajaran Islam, dengan melaksanakan bimbingan dan pembinaan yang berkenan dengan pendidikan jasmani dan rohani juga pendidikan lain seperti social, akhlak, keterampilan dan lain-lain.[4]
Mengenai kekurangan jam pelajaran pendidikan agama di sekolah ini, maka pihak sekolah dituntut untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang mengarah pada peningkatan keimanan dan ketaqwaan serta budi pekerti siswa. Disamping orang tua, masyarakat juga dituntut untuk berperan aktif mengatasi kekurangan jumlah jam pelajaran di sekolah dengan melaksanakan berbagai bentuk kegiatan keagamaan yang dapat mengarahkan pada pembentukan iman dan taqwa serta budi pekerti luhur.[5]
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa akhlak merupakan hasil usaha dalam mendidik dan melatih dengan sungguh-sungguh terhadap potensi rohaniyah yang terdapat dalam potensi seperti akal, nafsu, fitrah, hati nurani dan sebagainya. Jika program pendidikan dan pembinaan akhlak dirancang dengan sungguh-sungguh maka akan menghasilkan akhlak yang baik. Disinilah letak peran dan fungsi lembaga pendidikan dan sekolah dalam komunitas terbesar dimana remaja itu berada.[6]
B.     Hadits  الْقُرْآنَ خُلُقُهُ كَانَ
Hal ini yang perlu kita camkan sebagai penuntut ilmu agama, karena akhlak adalah cerminan langsung apa yang ada di hati, cerminan keikhlasan dan penerapan ilmu yang diperoleh. Lihat bagimana A’isyah rodhiallohu ‘anha mengambarkan langsung akhlak Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid, A’isyah rodhiallohu ‘anha berkata,
 كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
 “Akhlak beliau adalah Al-Quran” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54]
Nabi Muhammad
:
كَانَ
Akhlak beliau
:
خُلُقُهُ
Adalah Al-Quran
:
الْقُرْآنَ

Yang berkata demikian Adalah A’isyah rodhiallohu ‘anha, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu kita ketahui bahwa salah satu barometer ahklak seseorang adalah bagaimana akhlaknya dengan istri dan keluarganya. Rasulolluh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan Al-Albani menilai hadits tersebut sahih].
Akhlak dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, bisa jadi orang lain melihat bagus akhlaknya karena hanya bergaul sebentar. Khusus bagi suami yang punya “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istri dan keluarganya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlak jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlak jeleknya baik karena statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.
Dan tolak ukur yang lain adalah takwa sehingga Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkannya dengan akhlak, beliau bersabda,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rohimahullohu menjelaskan hadist ini, “Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya.[7]
Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
 ”Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Agar mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, maka pihak sekolah perlu menyelenggarakan kegiatan pendidikan dalam arti luas untuk lebih menyiapkan siswa dalam menghadapi tantangan misis sekolah adalah menyediakan pelayanan yang luas untuk secara efektif membantu siswa mencapai tujuan perkembangan dan permasalahannya.
Upaya mengatasi masalah kekurangan jam pelajaran agama pihak sekolah melaksanakan pembinaan yang lebih intensif lagi. Selain pendidikan agama yang bersifat kurikuler juga dilakukan pembinaan yang bersifat ekstra kurikuler. Siswa mendapat materi pelajaran melalaui praktek-praktek keagamaan yang mereka laksanakan di sekolah sebagai penunjang nilai bagi mereka.


DAFTAR PUSTAKA
Nata Abudin, 1999.  Akhlak Tasauf, jakarta: Raja Grapindo Persada
Yunus Muhammad, 1975. Metode Khusus Pendidikan Agama, Jakarta: Karya Agung
Darajat Zakiyah, dkk, 1997. Ilmu Pengetahuan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, cet ke-3
Lutijo Ahmad, Mchabin Thoha dkk, 1996. Pendekatan Intgrasi Pendidikan Agama pada Sekolah Di Indonesia, Yogyakarta : Pustaka Pelajar,.
Sudarsono, 1991, Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja, Jakarta : Rineka Cipta
W.J.S Poerwardarminta, Opcik, h.318



[1] http://akhlaqsalaf.wordpress.com/2010/01/13/definisi-akhlaq/
[2] Abudin, Akhlak Tasauf, (jakarta: Raja Grapindo Persada, 1999), h.7
[3] Muhammad Yunus, Metode Khusus Pendidikan Agama, (Jakarta: Karya Agung, 1975), h. 11-12
[4] Zakiyah Darajat, dkk, ilmu Pengetahuan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), cet ke-3 h.35
[5] Ahmad Lutijo, Mchabin Thoha dkk, Pendekatan Intgrasi Pendidikan Agama pada Sekolah Di Indonesia, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1996)
[6] W.J.S Poerwardarminta, Opcik, h.318
[7] Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar