PENCARIAN

Memuat...

Senin, 04 Juli 2011

Di Balik Nama Politik

Di balik nama politik
dalam sudut pandang islam
                                           Oleh: Moch. Rofi'I
                      Mahasiswa semester III PAI STAI AL KHOZINY

            Politik, kita sering mendengar kata yang satu ini. Tetapi banyak dari kita tidak mau mengerti apa itu politik?. Ataukah kita tidak mau tau apa itu politik?. Mungkin, politik menurut kita hanya tertentu pada pemerintah dan kenegaraan saja. Sedangkan kata politik menurut kamus bahasa indonesia adalah pengetahui tentang ke tata negaraan atau kenegaraan yang mencakup system pemerintahan, ruang lingkup pemerintahan, dasar-dasar pemerintahan dan peraturan pemerintah. Adapun terkait makna politik (Siyasah) disebutkan dalam kamus al-Muhith bahwa as-Siyasah (politik) berasal dari kata: Sasa-Yasusu-Siyasatan bima’na ra’iyatan (pengurusan). Dalam Lisan al-Arab juga disebutkan as-Siyasah adalah, al-qiyamu ‘ala bima yashluhuhu (politik adalah melakukan sesuatu yang bisa memberikan mashlahat padanya). Dengan demikian politik adalah: mengurusi urusan umat dengan aturan tertentu. Politik juga memiliki arti luas, segala urusan, tindakan, kebijakan, siasat, mengenai pemerintahan baik dalam negri maupun luar negri yang bekerja sama dalam segala bidang (ekonomi, kebudayaan, partai, organisasi) dan seluruh aspek kehidupan manusia.
            Memang banyak anggapan dari beberapa kalangan masyarakat bawah, politik di anggap selalu berurusan dengan tujuan mendapat kekuasaan semata. Berarti, cara apapun bisa di tempuh asalkan memperoleh kekuasaan. Sedangkan arti politik di lihat dari kaca mata islam dalam kitab Mafahim Siyasiyah, dijelaskan bahwa politik adalah Ri'aiyatu Al Suny Al Ummah dalam arti pengaturan urusan umat dan tidak hanya terbatas dalam urusan politik saja, seperti yang di sangka banyak masyarakat bawah, melainkan termasuk aspek ekonomi, pidana, social dan pendidikan.
            Sungguh islam telah memberikan gambaran yang utuh dalam menyikapi masalah ini. Sejarah membuktikan kurang lebih 14 abad yang silam, kaum muslim hidup dalam menerapkan aturan islam. Nabi Muhammad SAW gencar melakukan aktifitas dakwah politis, di antaranya pemantapan aqidah islamiyah, di mana pada waktu itu aqidah sebagai dasar perbaikan induvidu masyarakat dan penyelenggaraan Negara. Abu bakar sebagai penerus Rosulallah setelah beliau meninggal dunia untuk meneruskan dakwa Rosulallah. Waktu terus berjalan mengikuti alunan berputarnya matahari, khulafa' Ar-rasyidin, sahabat dan tabi'in. ketika itulah umat islam menyebar luas hampir seluruh penjuru dunia.   
            Negara indonesia adalah Negara yang bermanyoritas penduduknya islam dan Negara demokrasi. Islam sebuah agama yang efektif,  di dalam islam tidak hanya mengatur usrusan spiritualitas (sholat, puasa, zakat, dan haji) saja, akan tetapi agama islam juga mengatur kehidupan manusia mulai dari hokum, ekonomi, pendidikan, peradilan dan pemerintahan (politik). Agama islam dalah agama yang telah di sempurnakan dari segala hal. ini terbukti dalam surat al Maidah ayat 3. Artinya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
            Di indonesia, terdapat tiga Karekteristik politik yang sedang berkembang di Negara indonesia
1.      Karekteristik Politik Pribadi
Dalam Karakter ini, unsur individual-lah yang lebih ambisi dan di perjuangkan dengan berbagai cara agar bisa menduduki kursi ke presidenan (jabatan) yang di inginkan. Seseorang pemimpin yang ideal dalam sudut pandang masyarakat luas. Berorientasi kepada Rakyatnya, dia menjalankan tugas karena memikirkan akan di bawa kemana rakyat yang dia pimpinnya. Factor-faktor apa saja yang harus diprioritasikan sehingga orang-orang merasa nyaman berada dalam tubuh organisasi (Negara). Seorang pemipin kadang kala merupakan representasi dari rakyatnya, sebaliknya dia menjadi panutan oleh rakyatnya.
Berorentasi pada tugasnya, artinya seorang pemimpin melakukan tugas kaerna dia mendapat beban tugas sebagai pemimpin. Ketika dia mendapatkan tugas untuk menyejahterakan orang-orang yang di pimpinnya, maka outputnya orang-orang hasur sejahter, bukan sebaliknya, dia sendiri yang sejahtera. Dia dapat memimppin karena di dukung rakyatnya, maka sudah seharusnya dia mengikuti amanat yang di sandarnya. Nabi Muhammad SAW telah bersabda "Sesungguhnya Allah Ta'ala akan meminta pertanggung jawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaga kepemimpinannya atau melalaikannya.

2.      Karekteristik politik golongan atau partai
Partai Politik dalam era modern dimaknai sebagai suatu kelompok yang terorganisis oleh anggota-anggotanya yang mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Tujuannya adalah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka. Disini terlihat ada beberapa unsur yang penting, yakni: orang-orang, ikatan antara mereka hingga terorganisir menjadi satu kesatuan, serta orientasi, nilai, cita-cita, tujuan dan kebijaksanaan yang sama. Kepentingan partai atau golongan lebih diprioritaskan dan di perjuangkan. Caranya pun sangat bersinergis dengan yang pertama. Karekteristik partai dan gologan ini sangat mengedepankan visi dan misi porpol (partai politik) nya. Demi mendapatkan kekuasaan yang di harapkan oleh parpol.
Dalam praktek sekarang, setidaknya ada empat fungsi partai politik, yaitu: Pertama, partai sebagai sarana komunikasi politik, yakni: Partai menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat. Kedua, partai sebagai sarana sosialisasi politik, yakni: Memberikan sikap, pandangan, pendapat, dan orientasi terhadap fenomena (kejadian, peristiwa dan kebijakan) politik yang terjadi di tengah masyarakat. Ketiga, sebagai sarana rekrutmen anggota. Keempat, sebagai sarana pengatur konflik.
3.      Karekteristik politik kebangsaan (Negara)

Karekter yang ke tiga ini lah yang merupakan karekter teringgi, karena muaranya sudah cukup jelas, yaitu hanya untuk kepentigan bangsa mensejaterahkan rakyat dan memperjuangkan panji-panji kebenaran dan keadilan bukan ke pentingan pribadi atau partai. Negara merupakan intigrasi dari kekuasaan politik, ia adalah organisasi pokok dari kekuasaan politik. Negara adalah agency (alat) dari mesyarakat yang mempuyai kekuasaan untuk mengatur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertipkan problem-problem kekuasaan dalam masyarakat. Manusia hidup dalam masyarakat, sekaligus suasana antagonistis dan penuh dengan pertentangan. Tujuan terakhir setiap Negara menciptakan kebahagiaan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakatnya (rakyatnya).
Tujaan Negara Republik Indonesia (R.I) yang tertera dalam Undang-Undang Dasar 1945 ialah "untuk membentuk suatu pemerintahan Negara indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesajahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social.
Dalam realisasinya, karakter politik yang ketiga-tiganya perlu adanya semangat pengabdian dan loyalitas dalam menghadapi problem-problem yang menyangkut nasib rakyat dan bangsa. Semua itu di lakukan tidak di lihat apa partainya dan siapa pemperintahnya (pemimpin). Memang seharusnya politik itu alat untuk mensejahterakan kehidupan rakyat yang di lakukan oleh Negara. Allah swt. mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya: Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang menkar, merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali ‘Imran [3]: 104)

Daftar pustaka

·         Prof Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, 2007, Gramedia pustaka utama, Jakarta
·         Sarfilianty anggiani, 8 kekuatan keunggulan diri your power is youselt, 2008, gramedia pustaka utama, jakarta
·         kitab Mafahim Siyasiyah
·         Kitab Shahihul Jami' , no.1775; As-Silsilah Ash- Shahihah no.1636
·         Kamus al-Muhith

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar