PENCARIAN

Memuat...

Selasa, 13 November 2012

Penyesuaian Pribadi dan Sosial di Masa Tua



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai meninggal, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun.

Proses menua (lansia) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain.

Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses penuaan yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu : usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.

B.     Rumusan Masalah
1.    Bagaimana penyesuaian diri pada masa tua itu?
2.    Bagaimana penyesuaian pribadi terhadap karier itu?
3.    Bagaimana penyesuaian diri dalam kehidupan sosial?
C.    Tujuan Pembahasan
1.    Untuk menjelaskan penyesuaian diri pada masa tua.
2.    Ingin menjelaskan penyesuaian pribadi terhadap karier.
3.    Untuk mendeskripsikan penyesuaian diri dalam kehidupan sosial.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Penyesuaian Diri pada Masa Tua
Yang dimaksud dengan penyesuaian diri pada lanjut usia adalah kemampuan orang yang berusia lanjut untuk menghadapi tekanan atau konflik akibat perubahan – perubahan fisik, maupun sosial – psikologis yang dialaminya dan kemampuan untuk mencapai keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan dari lingkungan, yang disertai dengan kemampuan mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan – kebutuhan dirinya tanpa menimbulkan masalah baru.
Pada orang – orang dewasa lanjut yang menjalani masa pensiun dikatakan memiliki penyesuaian diri paling baik adalah lanjut usia yang sehat, memiliki pendapatan yang layak, aktif, berpendidikan baik, memiliki relasi sosial yang luas termasuk diantaranya teman – teman dan keluarga, dan biasanya merasa puas dengan kehidupannya sebelum pensiun (Palmore, dkk, 1985). Orang – orang dewasa lanjut dengan penghasilan tidak layak dan kesehatan yang buruk, dan harus menyesuaikan diri dengan stres lainnya yang terjadi seiring dengan pensiun, seperti kematian pasangannya, memiliki lebih banyak kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan fase pensiun (Stull & Hatch, 1984).
Penyesuaian diri lanjut usia pada kondisi psikologisnya berkaitan dengan dimensi emosionalnya dapat dikatakan bahwa lanjut usia dengan keterampilan emosi yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan bahagia dan berhasil dalam kehidupan, menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas mereka. Orang yang tidak dapat menghimpun kendali tertentu atas kehidupan emosinya akan mengalami pertarungan batin yang merampas kemampuan mereka untuk berkonsentrasi ataupun untuk memiliki pikiran yang jernih. Ohman & Soares (1998) melakukan penelitian yang menghasilkan kesimpulan bahwa sistem emosi mempercepat sistem kognitif untuk mengantisipasi hal buruk yang mungkin akan terjadi. Stimuli yang relevan dengan rasa takut menimbulkan reaksi bahwa hal buruk akan terjadi. Terlihat bahwa rasa takut mempersiapkan individu untuk antisipasi datangnya hal tidak menyenangkan yang mungkin akan terjadi. Secara otomatis individu akan bersiap menghadapi hal-hal buruk yang mungkin terjadi bila muncul rasa takut. Ketika individu memasuki fase lanjut usia, gejala umum yang nampak yang dialami oleh orang lansia adalah “perasaan takut menjadi tua”. Ketakutan tersebut bersumber dari penurunan kemampuan yang ada dalam dirinya. Kemunduran mental terkait dengan penurunan fisik sehingga mempengaruhi kemampuan memori, inteligensi, dan sikap kurang senang terhadap diri sendiri.
 Menurut suatu jurnal, disebutkan bahwa semakin tinggi usia seseorang maka afek-afek positifnya akan lebih banyak. Hal tersebut dikarenakan adanya faktor pendewasaan, pengalaman hidup, dll walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan, dijumpai lansia yang emosinya tidak “integrated”, hal tersebut sangat berkaitan erat dengan pengalaman hidup yang telah dilalui. (Age-Related Differences and Change in Positive and Negative Affect Over 23 Years, Journal of Personality and Social Psychology 2001, Vol. 80, No. 1, 136-151).
B.     Penyesuaian Pribadi Terhadap Karier
Pria lanjut usia biasanya lebih tertarik pada jenis pekerjaan yang statis daripada pekerjaan yang bersifat dinamis dan menantang. Dampak yang mereka peroleh adalah pekerjaan yang memberi kepuasan pada dirinya walaupun pekerjaan itu jelas berbeda dengan pekerjaan orang yang lebih muda atau pekerjaan pada masa mudanya. Bahkan mereka mengetahui bahwa sebentar lagi akan pensiun, atau bagi yang sudah pensiun akan berhenti bekerja, sehingga apa yang dilakukan tidak mempengaruhi sikap mereka terhadap pekerjaannya jika mereka memang menikmati apa yang mereka kerjakan. Bagi lansia yang bukan pegawai negeri atau karyawan swasta, misalnya wiraswastawan, pedagang, ulama, guru swasta dan lain-lain pikiran tentang pensiun mungkin tidak terlintas, mereka umumnya mengurangi kegiatannya setelah lansia dan semakin tua tugas-tugas tersebut secara berangsur berkurang sampai suatu saat secara rela dan tulus menghentikan kegiatannya. Kalau mereka masih mau melakukan kegiatan umumnya sebatas untuk beramal atau seolah-olah menjadi kegiatan hobby. Dalam kehidupan keluarga biasanya anak-cucu mereka cenderung keberatan jika kakeknya yang sudah lanjut usia masih harus bekerja mencari nafkah oleh karena itu kebutuhannya dicukupi oleh anak cucu atau keluarganya. Dalam kondisi demikian bekerja bagi lansia bukan keharusan lagi, namun lebih untuk bersenang-senang dalam menikmati masa tuanya.
Bagi wanita yang tidak bekerja selama masa dewasa dini, dengan kesibukan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak. Bekerja sebagai ibu rumah tangga sepanjang kurun waktu usia madya akan mendapatkan kompensasi kepuasan dari tanggung jawab keluarga dan rumah tangga karena dapat mengantarkan anak-anak menjadi dewasa, menyelesaikan studinya, mendapatkan pekerjaan sampai berkeluarga. Mereka akan merasa sangat puas dan bangga atas upayanya bila dapat mengantarkan ankak-anaknya sampai bekerja dan berkeluarga. Akibat keadaan tersebut wanita lanjut usia merasa kurang puas dengan pekerjaannya namun disisi lain mereka kurang merasa terganggu dengan tibanya masa pensiun ketimbang pria lanjut usia.
1.         Sikap
Pada masa lanjut usia, yang juga terjadi pada tingkat usia lain selama rentang hidup masa dewasa, orang mempunyai alasan yang berbeda terhadap pekerjaan yang diinginkan, seperti yang diungkapkan oleh Havighurst Hurlock (1992:414), bahwa sikap terhadap kerja merupakan dasar terhadap pekerjaan yang diinginkan.
Budaya sikap kerja yang berlaku sebelumnya juga dapat mempengaruhi sikap pekerja lanjut usia terhadap pekerjaannya. Mereka yang pertumbuhan masa dewasanya terjadi ketika sikap budaya terhadap pekerjaan pada umumnya lebih menyenangkan dibandingkan dengan sekarang, mempunyai sikap kerja yang sangat berbeda dibandingkan dengan orang muda. Hal ini mau tidak mau mewarnai sikap mereka terhadap pekerjaannya dan menambah kesulitan mereka dalam menyesuaikan diri karena tidak dapat memperoleh pekerjaan, padahal kondisi secara fisiknya masih memungkinkan untuk bekerja.
2.         Kesempatan Kerja
Selama usia madya kesempatan bekerja berkurang dengan cepat. Pada usia madya sangat sulit bahkan sering tidak mungkin memperoleh pekerjaan baru. Bagi lansia yang masih mendapat pekerjaan tentu sangat beruntung, hanya saja jenis pekerjaan yang diperoleh umumnya lebih banyak bersifat monoton, pekerjaan yang statis dan kurang berkembang dan mungkin juga tidak sesuai dengan tingkat kemampuan dan latihan yang pernah diterima. Hal itu mengakibatkan mereka merasa tidak puas. Secara relatif, hanya ada beberapa pekerjaan yang terbuka bagi orang lanjut usia yang berketrampilan tinggi atau jenis pekerjaan yang memerlukan tanggung jawab tinggi atau juga pekerjaan profesional yang sangat diperlukan di masyarakat. Dalam dunia usaha dan industri hanya pekerjaan yang ringan dan menyenangkan saja yang tersedia bagi pekerja lanjut usia.
Bagi lansia yang sanggup melaksanakan tugas dengan baik sekalipun harus menunggu bertahun-tahun, promosinya sangat lambat. Selain itu pekerjaan yang memerlukan tanggung jawab lebih besar seringkali diserahkan pada pekerja yang lebih muda. Dalam kondisi demikian, jika sang lansia merasa bahwa tugas / pekerjaan mereka hanya menghitung-hitung waktu sampai mencapai usia pensiun, maka kontribusinya bagi majikan/perusahaan menjadi jauh kurang berharga ketimbang saat sebelumnya. Di samping itu peraturan dari perusahaan maupun pemerintah ikut mempersulit bagi lansia yang masih ingin bekerja dan berkarya, karena tenaga-tenaga muda yang potensial dan enerjik banyak yang antri untuk menggantikan kedudukan yang sudah tua. Hal semacam itu merupakan dilema bagi lansia dalam bekerja dan berkarya.
3.         Kinerja
Penelitian tentang pekerja lanjut usia menekankan pada kualitas kerja yang menyumbang keberhasilan mereka dalam kerja. Pekerja lanjut usia, misalnya karena mereka banyak memiliki pengalaman, cenderung bekerja dengan gerak yang lamban daripada pekerja muda yang kurang berpengalaman. Kelebihan ini dapat menutupi kelemahan mereka dalam bekerja. Pertambahan beban masalah yang berhubungan dengan kehidupan pribadinya juga berkurang daripada pekerja muda yang keinginannya biasanya lebih dipusatkan pada cinta keluarga, sementara bagi lansia yang penting adalah rasa aman untuk bekerja dan tidak dikejar-kejar waktu, sehingga dapat bekerja dengan tenang.
Lanjut usia yang bekerja, seperti dijelaskan di atas, umumnya lebih stabil dan tenang sehingga tidak resah dan tidak mudah kecewa dengan pekerjaannya. Mereka juga kurang berminat untuk berganti pekerjaan dibandingkan dengan pekerja yang lebih muda. Mereka juga senang untuk berdemonstrasi bila ada kekecewaan. Perlu diakui bahwa volume pekerjaan mereka mungkin juga lebih sedikit daripada volume kerja orang muda, namun secara kualitas mungkin lebih baik dan dapat dijadikan andalan. Mereka lebih sedikit melakukan kekeliruan, hal ini sebagian disebabkan karena cara membuat keputusan lebih baik dan sebagian lagi karena cara kerja mereka lebih pasti, hati-hati walaupun lebih lambat lambat.
Kesadaran diri para pekerja usia lanjut lebih besar karena sikap mereka lebih matang dan mereka ingin terus memiliki pekerjaan tersebut. Akibatnya, mereka biasanya lebih dapat diandalkan dalam kualitas hasil pekerjaannya. Ketidakhadiran karena alasan sakit atau rasa tidak senang kerja paling banyak dilakukan oleh pekerja yang lebih muda, terutama mereka yang masih berumur dibawah duapuluh tahun, sedang pekerja lanjut usia jauh lebih jarang untuk tidak masuk. Bagi mereka yang secara psikologis merasa terjamin dan tidak diburu waktu biasanya tidak mudah stres dan tahan sakit.
C.    Penyesuaian Diri dalam Kehidupan Sosial
1.    Orang lanjut usia memiliki status kelompok minoritas
Lansia memiliki status kelompok minoritas karena sebagai akibat dari sikap sosial yang tidak menyenangkan terhadap orang lanjut usia dan diperkuat oleh pendapat-pendapat klise yang jelek terhadap lansia. Pendapat-pendapat klise iu seperti : lansia lebih senang mempertahankan pendadapatnya daripada mendengarkan pendapat orang lain. Menua membutuhkan perubahan peran. Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami kemunduran dalam segala hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya dilakukan atas dasar keinginan sendiri bukan atas dasar tekanan dari lingkungan.
2.    Penyesuaian yang buruk pada lansia
Perlakuan yang buruk terhadap orang lanjut usia membuat lansia cenderung mengembangkan konsep diri yang buruk. Lansia lebih memperlihatkan bentuk perilaku yang buruk. Karena perlakuan yang buruk itu membuat penyesuaian diri lansia menjadi buruk.
3.    Perubahan sosial
Umumnya lansia banyak yang melepaskan partisipasi sosial mereka, walaupun pelepasan itu dilakukan secara terpaksa. Orang lanjut usia yang memutuskan hubungan dengan dunia sosialnya akan mengalami kepuasan. Pernyataan tadi merupakan disaggrement theory. Aktivitas sosial yang banyak pada lansia juga mempengaruhi baik buruknya kondisi fisik dan sosial lansia. (J.W.Santrock, 2002, h.239)
4.    Perubahan kehidupan keluarga
Sebagian besar hubungan lansia dengan anak jauh kurang memuaskan yang disebabkan oleh berbagai macam hal. Penyebabnya antara lain : kurangnya rasa memiliki kewajiban terhadap orang tua, jauhnya jarak tempat tinggal antara anak dan orang tua. Lansia tidak akan merasa terasing jika antara lansia dengan anak memiliki hubungan yang memuaskan sampai lansia tersebut berusia 50 sampai 55 tahun.
Orang tua usia lanjut yang perkawinannya bahagia dan tertarik pada dirinya sendiri maka secara emosional lansia tersebut kurang tergantung pada anaknya dan sebaliknya. Umumnya ketergantungan lansia pada anak dalam hal keuangan. Karena lansia sudah tidak memiliki kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Anak-anaknya pun tidak semua dapat menerima permintaan atau tanggung jawab yang harus mereka penuhi.
Perubahan-perubahan tersebut pada umumnya mengarah pada kemunduruan kesehatan fisik dan psikis yang akhirnya akan berpengaruh juga pada aktivitas ekonomi dan sosial mereka. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada aktivitas kehidupan sehari-hari.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai meninggal, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun.
Proses menua (lansia) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain.
Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses penuaan yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu : usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
B.     Saran dan Kritik
Dalam berusaha melengkapi makalah ini, tentu ada sesuatu yang kurang dan kami sebagai penulis baik dari pembahasan ataupun dari segi tulisan menyadari akan hal demikian. Maka dari itu kami akan berusaha lebih baik dengan selalu mengedapankan sumber-sumber yang lebih layak sebagai reverensi. Kami sangatlah mengharapkan masukan baik berupa kritik ataupun saran sehingga dapat menjadi sebuah instropeksi dari karya kami juga sebagai semangat dan  landasan baru untuk terus berinovasi dalam berkarya.


DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Bambang Syamsul, Psikologi Agama, Pustaka Setia, Bandung, 2008.
Darajath, Zakiah, Peran Agama Dalam Kesehatan Mental, Gunung Agung, Jakarta, 1970.
Dea, Thomas. F. O., Sosiologi Agama, Suatu Pengenal Awal, terj. Yosogama, Rajawali dan Yogosama, Jakarta, 1985.
Hurlock Elizabeth B., Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentan Kehidupan, Erlangga, Jakarta, 1992.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar