PENCARIAN

Tampilkan postingan dengan label Study Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Study Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juli 2011

KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA


Mengapa manusia perlu beragama? Dan apa pula hakikat agama itu? Jawaban
kedua pertanyaan ini seharusnyta diajukan oleh tiap orang yang memeluk
sebuah agama. Tapi barangkali hanya sedikit orang yang mengetahui dengan
tepat apa itu agama dan mengapa ia beragama. Karenanya tak mengherankan jika
banyak pula orang yang mengaku memeluk suatu agama namun ia tak tahu
bagaimana ia mengamalkan agamnya.

Agama atau ad-dien dalam bahasa arabnya adalah : "Keyakinan (keimanan)
tantang suatu dzat ketuhanan (Ilahiyah) yang pantas untuk menerima ketaatan
dan ibadah". Ini adalah definisi secara umum. Karenanya semua keyakinan
tentang dzat ketuhanan disebut agama, walaupun itu murni hasil "kreatifitas"
otak manusia.

Kebutuhan terhadap agama

Bahwa sebagian besar penghuni bumi ini beragama adalah sebuah kenyataan yang
tak bisa dipungkiri. Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan "Mengapa manusia
beragama?". Jawabnya adalah karena manusia butuh terhadap agama. Dr. Yusuf
Al-Qaradhawy dalam bukunya "Madkhal li-Ma'rifatil Islam"-Pengantar Kajian
Islam- menyebutkan paling tidak ada lima faktor yang menyebabkan manusia
butuh terhadap agama:

1. Kebutuhan akal terhadap pengetahuan mengenai hakikat eksistensi terbesar.


Betapapun cerdasnya manusia, jika hanya dengan akalnya ia tak akan bisa
menjawab dengan pasti pertanyaan: darimana ia berasal?, kemanakah ia setelah
mejalani hidup ini? dan untuk apa ia hidup?. Banyak filosof dan pemikir yang
mencoba mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan ini, namun tak ada jawaban
pasti yang dapat mereka berikan. Karenanya tak mengherankan jika
jawaban-jawaban itu berbeda-beda satu dengan yang lain. Ini terjadi karena
jawaban-jawaban yang mereka berikan hnya didasarkan pada asumsi-asumsi dan
prasangka.

Jawaban pasti terhadap pertanyaan-pertanyaan diatas hanya bisa didapatkan
melui agama dan itu pun tidak semua agama. Sebab pada hakikatnya jawaban
pati itu adalah berasal dari Tuhan yang menciptakan manusia dan jagat raya
ini. Dan saat ini hanya Islamlah yang mempunyai sumber autentik firman
Tuhan, yaitu Al-Qur'an. Selain Al-Qur'an semua sudah tercampur dengan
perkataan manusia, bahkan ada yang murni hasil karya manusia namun dianggap
firman Tuhan.

2. Kebutuhan fitrah manusia

Bukti yang paling jelas membuktikan bahwa secara fitrah manusia butuh
terhadap agama adalah kenyataan bahwa semua bangsa mengenal kepercayaan
terhadap dzat yang dianggap agung. Baik itu bangsa yang primitif maupun yang
berperadaban, yang di barat maupun yang di timur, yang kuno maupun yang
modern. Sedangkan orang-orang yang mengaku tidak percaya terhadap Tuhan, itu
sebenarnya adalah hanya sebuah pelarian dari rasa kecewa terhadap agama yang
mereka lihat. Padahal yang salah adalah ajaran agama itu dan sama sekali itu
tidak membuktikan bahwa Tuhan tidak ada.

Tentang kebutuhan fitri terhadap agama ini Allah berfirman :

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah). (Tetaplah atas)
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu".(Qs.
Ar-Rum:30)

3. Kebutuhan manusia terhadap kesehatan jiwa dan kekuatan rohani

Kehidupan manusia tak selamanya mulus tanpa kerikil dan batu sandungan. Ada
saat-saat gembira, bahagia, damai dan tentram namun juga ada saat diaman ia
sedih, gundah, menderita dan tertimpa musibah. Disaat jiwa sedang dalam
kondisi lemah seperti itulah semakin terasa ia membutuhkan kekuatan yang
bisa mengembalikan rasa bahagia, tentram dan damai yang hilang. Atau paling
tidak ia bisa menghadapi semua itu dengan jiwa yang besar, ketabahan dan
kesadaran.

Keyakinan dan keimanan terhadap agamalah sumber kekuatan itu. Sebab hanya
agamalah yang mengajarkan tentang kepercayaan terhadap takdir, tawakkal,
kesabaran, pahala dan siksa. Dengan kepercayaan terhadap takdir ia bisa
dengan mudah menerima kenyataan. Dengan tawakkal ia tidak akan terlalu
kecewa jika ternyata jerih payahnya tak sesuai dengan harapan. Dan dengan
kepercayaan terhadap pahala dan siksa ia akan bisa segera bangkit kembali
tatkala didzalimi orang lain. Dengan kepercayaan semacam itulah jiwa akan
menjadi sehat dan rohani akan menjadi kuat.

Tentang kaitan antara agama dan kesehatan jiwa ini Dr. Karl Bang memberikan
kesaksian: "Setiap pasien yang berkonsultasi padaku semenjak tiga puluh
tahun yang lalu yang berasal dari seluruh penjuru dunia, ternyata
sesungguhnya penyebab sakit mereka adalah kurangnya keimanan dan goyahnya
akidah mereka. Sementara mereka tidak akan mendapatkan kesembuhan kecuali
setelah mereka mengembalikan keimana mereka".

4. Kebutuhan masyrakat terhadap motivasi dan disiplin akhlak.

Hukum dan peraturan jelas tidak bisa menjamin bahwa anggota sebuah
masyarakat akan bisa melaksanakan kebaikan, menunaikan kewajiban dan
meninggalkan larangan. Sebab hukum dan peraturan itu tidak bisa menciptakan
motivasi dan menumbuhkan kedisiplinan. Karena memanipulasi hukum adalah
suatu hal yang mungkin terjadi dan mencurangi peraturan adalah bukan hal
sulit untuk dilakukan.

Hukum dan peraturan hanyalah sebuah perwujudan dari pengawasan eksternal,
dan itu tidak cukup. Masyarakat membutuhkan motivasi internal yang kita
kenal dengan hati nurani. Dengan membina hati nurani inilah seorang manusia
akan termotivasi untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan
sukarela walaupun tanpa ada pengawasan dari manusia dan tekanan dari hukum
dan peraturan.

Peran pembinaan terhadap hati nurani inilah yang tak dapat dilakukan selain
oleh agama. Apalagi agama juga mengajarkan adanya "pengawasan melekat" oleh
Tuhan terhadap seluruh perbuatan manusia. Motivasi hati nurani dan
"pengawasan melekat" seperti inilah yang bisa menjamin suburnya nilai-nilai
kebaikan dan akhlak mulia dalam masyarakat.

Marilah kita simak kata-kata Voltair berikut ini:

"Mengapa kalian meragukan eksistensi Tuhan, padahal kalau bukan karena Tuhan
niscaya istriku telah mengkhianatiku (berbuat serong) dan pembantuku telah
mencuri hartaku".

5. Kebutuhan masyarakat kepada solidaritas dan soliditas.

Agama sesungguhnya memiliki peran yang sangat besar urgensinya dalam
mengeratkan hubungan antara manusia satu sama lain, dalam status mereka
semua sebagai hamba milik satu Tuhan (Allah) yang talah menciptakan mereka
dan dalam status mereka semua sebagai anak dari satu bapak (Adam) yang telah
menurunkan mereka, terlebih lagi dengan persaudaraan akidah dan ikatan iman
yang dibangun oleh agama diantara mereka. Bahkan ikatan akidah dan keimanan
ini melampaui batas-batas bangsa, suku, warna kulit jenis kelamin dan
melebihi ikatan darah dan kekerabatan. Maka tidak mengherankan jika kita
menemukan mereka mencintai yang lainnya sebagaimana ia mencintai dirinya
sendiri, rela mengorbankan nyawa demi saudaranya dan berlinang air mata
karena penderitaan saudaranya dinegeri lain yang dipisahkan jarak
beribu-ribu kilo meter. Dengan cinta dan pengorbanan semacam itulah sebuah
masyarakat menjadi solid dan kokoh
 Manusia sebagai mahluk
Manusia sebagai makhluk Tuhan adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial, susila, dan religius. Sifat kodrati manusia sebagai makhluk pribadi, sosial, susila, dan religii harus dikembangkan secara seimbang, selaras, dan serasi. Perlu disadari bahwa manusia hanya mempunyai arti dalam kaitannya dengan manusia lain dalam masyarakat. Manusia mempunyai arti hidup secara layak jika ada diantara manusia lainnya. Tanpa ada manusia lain atau tanpa hidup bermasyarakat, seseorang tidak dapat menyelenggarakan hidupnya dengan baik.
Guna meningkatkan kualitas hidup, manusia memerlukan pendidikan, baik pendidikan yang formal, informal maupun nonformal. Dalam kenyataannya, manusia menunjukkan bahwa pendidikan merupakan pembimbingan diri sudah berlangsung sejak zaman primitif. Kegiatan pendidikan terjadi dalam hubungan orangtua dan anak.
John A. Laska, mengemukakan pengertian pendidikan sebagai berikut :
Education is one of the most important activities in which human beings engange. It is by means of the educative process and its role intransmitting the cultural heritage from one generation to the next that human societies are able to meintein their existence. But education does more than just help us to keep the kind of society we already have; it is also one of the major ways in which people try to change or improve their societies…..
A. Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Individu
Sebagai makhluk individu yang menjadi satuan terkecil dalam suatu organisasi atau kelompok, manusia harus memiliki kesadaran diri yang dimulai dari kesadaran pribadi di antara segala kesadaran terhadap segala sesuatu. Kesadaran diri tersebut meliputi kesadaran diri di antara realita, self-respect, self-narcisme, egoisme, martabat kepribadian, perbedaan dan persamaan dengan pribadi lain, khususnya kesadaran akan potensi-potensi pribadi yang menjadi dasar bagi self-realisation.
Sebagai makhluk individu, manusia memerlukan pola tingkah laku yang bukan merupakan tindakan instingtif belaka. Manusia yang biasa dikenal dengan Homo sapiens memiliki akal pikiran yang dapat digunakan untuk berpikir dan berlaku bijaksana. Dengan akal tersebut, manusia dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya seperti, karya, cipta, dan karsa. Dengan pengembangan potensi-potensi yang ada, manusia mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia seutuhnya yaitu makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
Perkembangan manusia secara perorangan pun melalui tahap-tahap yang memakan waktu puluhan atau bahakan belasan tahun untuk menjadi dewasa. Upaya pendidikan dalam menjadikan manusia semakin berkembang. Perkembangan keindividualan memungkinkan seseorang untuk mengmbangkan setiap potensi yang ada pada dirinya secara optimal.
Sebagai makhluk individu manusia mempunyai suatu potensi yang akan berkembang jika disertai dengan pendidikan. Melalui pendidikan, manusia dapat menggali dan mengoptimalkan segala potensi yang ada pada dirinya. Melalui pendidikan pula manusia dapat mengembangkan ide-ide yang ada dalam pikirannya dan menerapkannya dalam kehidupannya sehari-hari yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia itu sendiri.
B. Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Di dalam kehidupannya, manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah satu kodrat manusia adalah selalu ingin berhubungan dengan manusia lain. Hal ini menunjukkan kondisi yang interdependensi. Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga masyarakat, dan warga negara. Hidup dalam hubungan antaraksi dan interdependensi itu mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik dalam arti positif maupun negatif. Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dari nilai-nilai sekaligus watak manusia bahkan pertentangan yang diakibatkan oleh interaksi antarindividu. Tiap-tiap pribadi harus rela mengorbankan hak-hak pribadi demi kepentingan bersama Dalam rangka ini dikembangkanlah perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Pada zaman modern seperti saat ini manusia memerlukan pakaian yang tidak mungkin dibuat sendiri.
Tidak hanya terbatas pada segi badaniah saja, manusia juga mempunyai perasaaan emosional yang ingin diungkapkan kepada orang lain dan mendapat tanggapan emosional dari orang lain pula. Manusia memerlukan pengertian, kasih saying, harga diri pengakuan, dan berbagai rasa emosional lainnya. Tanggapan emosional tersebut hanya dapat diperoleh apabila manusia berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat.
Dalam berhubungan dan berinteraksi, manusia memiliki sifat yang khas yang dapat menjadikannya lebih baik. Kegiatan mendidik merupakan salah satu sifat yang khas yang dimiliki oleh manusia. Imanuel Kant mengatakan, "manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan". Jadi jika manusia tidak dididik maka ia tidak akan menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Hal ini telah terkenal luas dan dibenarkan oleh hasil penelitian terhadap anak terlantar. Hal tersebut memberi penekanan bahwa pendidikan memberikan kontribusi bagi pembentukan pribadi seseorang.
Dengan demikian manusia sebagai makhluk sosial berarti bahwa disamping manusia hidup bersama demi memenuhi kebutuhan jasmaniah, manusia juga hidup bersama dalam memenuhi kebutuhan rohani.
C. Pengembangan manusia sebagai makhluk Susila
Aspek kehidupan susila adalah aspek ketiga setelah aspek individu dan sosial. Manusia dapat menetapkan tingkah laku yang baik dan yang buruk karena hanya manusia yang dapat menghayati norma-norma dalam kehidupannya.
Dalam proses antar hubungan dan antaraksi itu, tiap-tiap pribadi membawa identitas dan kepribadian masing-masing. Oleh karena itu, keadaan yang yang cukup bermacam-macam akan terjadi berbagai konsekuensi tindakan-tindakan masing-masing pribadi.
Kehidupan manusia yang tidak dapat lepas dari orang lain, membuat orang harus memiliki aturan-aturan norma. Aturan-aturantersebut dibuat untuk menjadikan manusia menjadi lebih beradab. Menusia akan lebih menghargai nilai-nilai moral yang akan membawa mereka menjadi lebih baik.
Selain aturan-aturan norma, manusia juga memerlukan pendidikan yang dapat digunakan sebagai sarana mencapai kemakmuran dan kenyamanan hidup. Pendidikan dapat menjadikan manusia seutuhnya. Dengan pendidikan, manusia dapat mengerti dan memahami makna hidup dan penerapannya.
Melalui pendidikan kita harus mampu menciptakan manusia yang bersusila, karena hanya dengan pendidikan kita dapat memanusiakan manusia. Melalui pendidikan pula manusia dapat menjadi lebih baik daripada keadaan sebelumnya. Dengan pendidikan ini, manusia juga dapat melaksanakan dengan baik norma-norma yang ada dalam suatu masyarakat. Manusia akan mematuhi norma-norma yang ada dalam masyarakat jika diberikan pendidikan yang tepat.
Dengan demikian, kelangsungan kehidupan masyarakat tersebut sangat tergantung pada tepat tidaknya suatu pendidikan mendidik seorang manusia mentaati norma, nilai dan kaidah masyarakat. Jika tidak maka manusia akan melakukan penyimpangan terhadap norma-norma yang telah disepakati bersama oleh masyarakat.
D. Pengembangan Manusia Sebagai Mahluk Religius
Manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa di muka bumi ini sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain. Melalui kesempurnaannya itu manusia bisa berpikir, bertindak, berusaha, dan bisa menentukan mana yang benar dan baik. Di sisi lain, manusia meyakini bahwa dia memiliki keterbatasan dan kekurangan. Mereka yakin ada kekuatan lain, yaitu Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Oleh sebab itu, sudah menjadi fitrah manusia jika manusia mempercayai adanya Sang Maha Pencipta yang mengatur seluruh sistem kehidupan di muka bumi.
Dalam kehidupannya, manusia tidak bisa meninggalkan unsur Ketuhanan. Manusia selalu ingin mencari sesuatu yang sempurna. Dan sesuatu yang sempurna tersebut adalah Tuhan. Hal itu merupakan fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Tuhannya.
Oleh karena fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, untuk beribadah kepada Tuhan pun diperlukan suatu ilmu. Ilmu tersebut diperoleh melalui pendidikan. Dengan pendidikan, manusia dapat mengenal siapa Tuhannya. Dengan pendidikan pula manusia dapat mengerti bagaimana cara beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Melalui sebuah pendidikan yang tepat, manusia akan menjadi makhluk yang dapat mengerti bagaimana seharusnya yang dilakukan sebagai seorang makhluk Tuhan. Manusia dapat mengembangkan pola pikirnya untuk dapat mempelajari tanda-tanda kebesaran Tuhan baik yang tersirat ataupu dengan jelas tersurat dalam lingkungan sehari-hari.
Maka dari keseluruhan perkembangan itu menjadi lengkap dan utuh dalam setiap sisinya, baik dari sisi individu, sosial, susila, maupun religius. Keutuhan dari setiap sisi tersebut dapat menjadikan manusia menjadi makhluk yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain.
 Fungsi agama
Dari segi pragmatisme, seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh fungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan hidup. Tetapi dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yang diuraikan di bawah:
  • Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia.
    Agama dikatakan memberi pandangan dunia kepada manusia karena ia sentiasanya memberi penerangan kepada dunia(secara keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia. Penerangan dalam masalah ini sebenarnya sulit dicapai melalui indra manusia, melainkan sedikit penerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahwa dunia adalah ciptaan Allah(s.w.t) dan setiap manusia harus menaati Allah(s.w.t).
  • Menjawab pelbagai pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh manusia.
    Sebagian pertanyaan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan pertanyaan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya pertanyaan kehidupan setelah mati, tujuan hidup, soal nasib dan sebagainya. Bagi kebanyakan manusia, pertanyaan-pertanyaan ini sangat menarik dan perlu untuk menjawabnya. Maka, agama itulah fungsinya untuk menjawab soalan-soalan ini.
  • Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia.
    Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah karena sistem agama menimbulkan keseragaman bukan saja kepercayaan yang sama, melainkan tingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama.
  • Memainkan fungsi peranan sosial.
    Kebanyakan agama di dunia ini menyarankan kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendiri sebenarnya telah menggariskan kode etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka ini dikatakan agama memainkan fungsi peranan sosial.


DAFTAR PUSTAKA  Fungsi agama

Azra,Azyumardi.2002.Demokrasi,HAM,dan Masyarakat Madani.Jakarta:Prenada Media.
Budiyanto.2007.Pendidikan Kewarganegaraan.Jakarta:Erlangga.
Kaelan.2008.Pendidikan Pancasila.Yogyakarta:Paradigma.
Suteng,Bambang.2006.Pendidikan Kewarganegaraan.Jakarta:Erlangga.

Pengertian Agama Secara Umum


Merumuskan pengertian agama bukan suatu perkara mudah, dan ketidak sanggupan manusia untuk mendefinisikan agama karena disebabkan oleh persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kepentingan mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi, karena itu tidak mengherankan jika secara internal  muncul pendapat-pendapat yang secara apriori menyatakan bahwa agama tertentu saja sebagai satu-satunya agama samawi, meskipun dalam waktu yang bersamaan menyatakan bahwa agama samawi itu meliputi Islam, Kristen dan Yahudi.
Sumber terjadinya agama terdapat dua katagori, pada umumnya agama Samawi dari langit, agama yang diperoleh melalui Wahyu Illahi antara lain Islam, Kristen dan Yahudi.—-dan agama Wad’i atau agama bumi yang juga sering disebut sebagai agama budaya yang diperoleh berdasarkan kekuatan pikiran atau akal budi manusia antara lain Hindu, Buddha, Tao, Khonghucu dan berbagai aliran keagamaan lain atau kepercayaan.
Dalam prakteknya, sulit memisahkan antara wahyu Illahi dengan budaya, karena pandangan-pandangan, ajaran-ajaran, seruan-seruan pemuka agama meskipun diluar Kitab Sucinya, tetapi oleh pengikut-pengikutnya dianggap sebagai Perintah Illahi, sedangkan pemuka-pemuka agama itu sendiri merupakan bagian dari budaya dan tidak dapat melepaskan diri dari budaya dalam masa kehidupannya, manusia selalu dalam jalinan lingkup budaya karena manusia berpikir dan berperilaku.
Beberapa acuan yang berkaitan dengan kata  “Agama” pada umumnya; berdasarkan Sansekerta yang menunjukkan adanya keyakinan manusia berdasarkan Wahyu Illahi dari kata A-GAM-A, awalan A berarti “tidak” dan GAM berarti “pergi atau berjalan, sedangkan akhiran A bersifat menguatkan yang kekal, dengan demikian “agama: berarti pedoman hidup yang kekal”
Berdasarkan kitab, SUNARIGAMA yang memunculkan dua istilah; AGAMA dan UGAMA, agama berasal dari kata A-GA-MA, huruf A berarti “awang-awang, kosong atau hampa”, GA berarti “genah atau tempat” dan MA berarti “matahari, terang atau bersinar”, sehingga agama dimaknai sebagai ajaran untuk menguak rahasia misteri Tuhan, sedangkan istilah UGAMA mengandung makna, U atau UDDAHA yang berarti “tirta atau air suci” dan kata GA atau Gni berarti “api”, sedangkan MA atau Maruta berarti “angin atau udara” sehingga dalam hal ini agama berarti sebagai upacara yang harus dilaksanakan dengan sarana air, api, kidung kemenyan atau mantra.
Berdasarkan kitab SADARIGAMA dari bahasa sansekerta IGAMA yang mengandung arti I atau Iswara, GA berarti Jasmani atau tubuh dan MA berarti Amartha berarti “hidup”, sehingga agama berarti Ilmu guna memahami tentang hakikat hidup dan keberadaan Tuhan.








Agama Untuk Manusia Atau Manusia Untuk Agama?

Mereka menyadari akan tuntutan di masa modern, yakni manusia menginginkan  segala  sesuatu. Termasuk  manusia menginginkan agama. Padahal menurut pandangan klasik, mereka memandang manusia untuk agama. Mereka mengatakan bahwa didalam pandangan klasik terhadap agama, manusia memandang  tinggi agama dan akidah. Dengan dalil ini, manusia menjunjung tinggi akidah dan menjadikan jiwa lahiriyah mereka tiada  bernilai, serta dengan mudah mereka akan mengorbankan jiwanya itu demi agama. Adapun di masa modern, manusia menempatkan dirinya lebih tinggi atas akidahnya.  Ini tidak berarti bahwa manusia akan mengorbankan dirinya demi akidahnya, juga tidaklah menjadikan jiwanya terbunuh atas dasar akidah yang dianutnya.             
          
Tiada diragukan di masa modern bahwa manusia lebih terhormat atas pemikirannya. Hal ini dapat ditinjau dari: Pertama, argumentasi apa yang meletakkan manusia lebih terhormat atas pemikirannya? Kedua, apakah juga demikian halnya menurut pandangan klasik atau bertentangan? Adapun di masa modern manusia telah menemukan kehormatan dirinya dan meletakkan kedudukan rendah atas pemikirannya, dari sisi akibat  perkara yang terlupakan oleh manusia.  Dari sisi lain, sebagai akibat dari pengetahuan manusia yang telah hilang kebenarannya. Manusia modern,  menyakini pengetahuan yang nisbi, hingga tidak mungkin berharap pemikirannya tersebut akan bernilai dan akan sampai pada titik terendah dari manusia. Jika  manusia  menemukan sebuah hakikat dari pemikirannya, akan mengantarkannya pada kemuliaan dan  terjaga kehormatannya. Hingga mungkin akan menjadikan pemikirannya lebih mulia dari dirinya.Adapun pemikiran klasik yang tersebar, telah menemukan nilainya yang sangat berharga dalam sejarah manusia. Tidaklah hal tersebut berlaku atas pemikiran di masa modern. Oleh karenanya, terdapat sebuah kesalahan atas misi pengajaran yang disampaikan di masa modern, yakni pada masa sebelum pembaharuan Eropa, mempengaruhi  misi pengajaran yang disampaikan  atas semua budaya dan negara. Sehingga akan memaksakan kesulitan yang sama atas semua hukum yang berlaku di Eropa pada abad pertengahan. Ini adalah hasil sebuah makar yang diciptakan oleh para atheis, yang menjadikannya sebuah fenomena di dunia modern, yang mengharuskan penyelesaiannya. 

Tujuan Agama  

Kami di sini tidak mampu mengisyaratkan berbagai pemikiran klasik. Tetapi, kami akan menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan pemikiran klasik menurut pendapat kami. Pada masa datangnya budaya Islam, turunnya kitab-kitab suci dan diutusnya para Rasul yang mengantarkan manusia menuju jalan kesempurnaan. Hal ini sangatlah jelas, bahwa agama adalah petunjuk Tuhan Yang Penyayang dan Pemberi Hidayat kepada manusia hingga menyampaikan manusia pada kesempurnaan yang diinginkan. Tujuan agama adalah memberikan petunjuk pada manusia, sehingga dengan kekuatan petunjuk agama akan menyampaikannya menuju ke-haribaan  Ilahi.            Jika demikian, maka agama adalah perantara dalam  membantu tugas  manusia untuk merealisasikan tujuan mulianya. Dengan dasar ini, tidaklah mungkin  digambarkan bahwa bagaimana mungkin ketika agama muncul manusia menjadikan tebusan dan pengorbanan pada dirinya. Jika seandainya manusia tidak berpegang pada prinsip agama, tidak menjadikan kesempurnaan kekuatan ruh agama. Maka tidak akan menyampaikannya ke tujuan agama. Jika manusia  tanpa memperdulikan petunjuk agama dan agama hanya sebagai identitas lahirnya akan menjerumuskannya ke jurang kehancuran, dan yang pantas di sebut atheis. Dalam pandangan Islam yang murni, agama sebagai jalan kebenaran dan keselamatan. Agama sebagai jalan menyampaikan pada tujuan  dan kesempurnaan  realitas wujud yang paling tinggi.  Agama sebagai rantai dan penyambung antara Alam Malaikat dan Alam Malakut. Agama datang, hingga menjadikan manusia yang berasal dari kedalaman  tanah menuju ke singgasana langit. Agama sebagai pengobat rasa takut kita. Agama sebagai pelindung terhadap berbagai kesulitan yang mendasar dari alam natural. Agama adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Agama yang merubah ketakutan akan mati pada manusia  menjadikannya sebagai sebuah harapan kehidupan yang abadi.  Dari sini,  tidaklah kita menjadikan dalil ojektif  diatas,  kita ingin berbicara tentang agama menurut pandangan Islam murni. Mengidentitaskan ikatan agama dengan manusia. Begitu juga dengan memperhatiakan semua permasalahan di atas dengan tujuan manusia. Agama yang membantu tugas manusia untuk keselamatannya. Sebelumnya, terdapat sebuah pertanyaan: jika demikian, mengapa melalui perantara agama, jiwa manusia perlu dikorbankan, dan mengapa melalui penjagaan atas  agama jiwa suci manusia diberikan dan mengantarkannya ke jalan syahadah ? dan mengapa ada budaya menjemput syahadah dalam agama, khususnya  agama Islam ?   
Motivasi Manusia 
Sebelum memaparkan hal di atas, perlu untuk memperhatikan beberapa mukaddimahnya. Setiap perkara yang dilakukan oleh manusia, tidaklah terlepas dari  dua hal: apakah perkara yang dilakukan tersebut berdasarkan kebenaran atau berdasarkan maslahat ? Dengan kata lain, motivasi (dorongan) kerja manusia ada dua bentuk: mencari sebuah kebenaran dan berfikir secara maslahat. Ketika saya mengerjakan shalat, apakah saya telah menemukan Tuhan yang memang layak disembah ? atau melalui jalan ini Dia ingin disembah (motivasi mencari kebenaran) atau dengan sebab tadi, shalat akan menjadikan keselamatan baginya (motivasi berfikir maslahat).   Jika saya tidak berkata bohong. Dengan dalil ini, berbohong adalah salah (menuntut kebenaran). Atau dengan dalil tadi, berbohong menyebabkan azab yang pedih (motivasi berfikir secara maslahat). Berdasarkan dua prinsip tadi kita akan memberikan dua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas: 
1. Mencari Kebenaran             
Pencari kebenaran terbentuk dari tiga perkara: 1. Kecenderungan 2. Pandangan 3. Metode. Hakekat pencari kebenaran akan ditemukan sesuai dengan tiga bentukan ini: 1. Aliran kebenaran.   2. Kebenaran yang yakin. 3. Kebenaran sebagai tolak ukur. Manusia dalam mencari kebenaran melalui tiga bentuk yang berada dalam dirinya, yakni hati sebagai pusatnya niat atau maksud dan mencintai dan membenci manusia. Otak yang mana sebagai pusat pandangan-pandangan manusia. Fenomena sebagai tempat metode-metode amal perbuatan dan tingkah laku manusia untuk menetapkan sebuah hakekat. Cinta dan benci pada manusia hanya berdasarkan kebenaran dan hakekat (aliran kebenaran), selain dari keyakinan-keyakinan yang benar maka iman tidak bisa didatangkan dan juga menerima setiap keyakinan yang benar (kebenaran yang yakin) dan selalu berdiri dengan kebenaran dan sebab-sebabnya. Dan dalam sisi pengamalan, mereka tidak akan berpaling. Dan prilaku mereka hanya berdasarkan atas hakekat (kebenaran sebagai tolak ukur). 
Ali as sebagai tauladan pencari kebenaran             
Tauladan tertinggi manusia sebagai pencari kebenaran adalah Ali Bin Abu Thalib as, yang mana didalam segala sesuatu berpegang pada kebenaran, dan tidaklah mencintai sesuatu selain kebenaran. Walaupun di dalam kewilayahan dan pemerintahan. Jika hal tesebut bukan sebuah kebenaran, maka atas  salah satu bagian dari sepatunya adalah sesuatu yang sedikit lebih berharga (khutbah 33). Setiap seorang akan mengetahui bahwa beliau adalah orang yang paling mulia diantara rakyat yang mana kebenaran di sisinya lebih ia cintai dari segala sesuatu (aliran kebenaran). Tidaklah menghukumi sesuatu menurut keyakinannya selain kebenaran dan kenyataan. Dan mengenal  kebenaran setiap saat serta tidak berhenti waktunya di dalam kebenaran (khutbah 4). Dalam sisi amal perbuatan, selalu dalam lingkaran kebenaran. Tidaklah hadir dalam dirinya suatu kebohongan untuk mendapatkan kedudukan khilafah ( dalam musyawarah pemilihaan setelah khilafah kedua), orang-orang kuat di sisi beliau menjadi lemah sehingga mereka mengembalikan  haknya (khutbah 37), beliau mengingatkan dengan bersumpah atas nama Tuhan bahwa untuk kebenaran dan kebebasan dari cengkraman kebatilan. Dan dalam setiap sesuatu yang dicampuradukkan dengan kebatilan, hendaklah hal tersebut diperangi (khutbah 104), dalam tolak ukur kebenarannya hingga dengan perkembangannya terhadap para penuntut hak lebih dan  yang keliru memaksa beliau melakukan tiga peperangan yang tidak inginkan, yang mengakibatkan jiwa beliau sendiri melayang atas dasar keadilan. Pengorbanan  di  Jalan Kebenaran             Ini adalah keadaan seseorang yang telah menemukan dan berpegang teguh kebenaran. Jika halnya seseorang telah menemukan kebenaran. Jika ia ingin mendapatkan kebenaran, haruslah juga berbuat demikian. Apakah  hakikat nilai penemuan kebenaran tidak ada, sehingga badan manusia perlu dikorbankan? Tentunya kesempurnaan manusia   selalu tegar dalam kebenaran dan berperang demi kebenaran ? tidaklah dari sisi kemanusiaan kita mempunyai tolak ukur kebenaran? Manusia adalah pencari kebenaran, kemanusiaan itu sendiri dalam kelompok pandangan kebenaran, kebenaran yang yakin dan kebenaran sebagai tolak ukur. Oleh karenanya, dalam penilaian esensi ini mengorbankan ikatan kemanusian secara materi pada dirinya.
 2. Berfikir maslahat          
Seseorang yang melakukan perbuaatannya berdasarkan prinsip  maslahat, harus memulai dengan pengenalan terhadap maslahat pribadinya. Kemudian akan mengetahui maslahat apa yang paling baik  bagi rakyat. Dan bagaimana akan mendapatkan maslahat itu, melalui jalan apa yang bisa menjauhkan diri dari perkara yang membahayakan serta akan mendekatkan pada perkara yang menguntungkan. Pada dasarnya, sesuatu apa yang menguntungkan dan permasalahan apa yang merugikan. Seseorang yang berpegang pada agama akan mengetahui bahwa Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Penyayang mengetahui maslahat sesuatu dan menginginkannya. Oleh karenanya, paling tingginya  tingkat maslahat pada-Nya akan menjamin suatu  kebaikan dalam ruang lingkup agama. Apabila  bagian dari maslahat ke depan dan yang terlewati tidak diketahui maka lebih diutamakan maslahat di dalam ketetapan agama dan maslahat terhadap amal perbuatan atasnya. Dikarenakan berpegang pada agama sebagai jalan keselamatan dan mengantarkan pada kebahagian dunia dan akhirat.               Alhasil, orang beragama akan menanti sebuah pengorbanan untuk mengantarkannya pada keselamatan. Dan ini adalah perbuatan  orang-orang yang berakal dan kemanusiaan. Dikarenakan, akan menjamin maslahat manusia pada jalan ini. Benar, akan hilang sebagian maslahat dunia, akan tetapi akan mendatangkan kebaikan yang abadi. Apakah jual beli dan perdagangan yang lebih besar dan menguntungkan dari hal ini? Allah Swt dalam al-qur’an berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih. Yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Shaf ayat 10 dan11)
Setiap dua individu manusia melalui jalan ini mampu mengantarkan jalan menuju maslahat akhirat dan mendapatkan keselamatan atas dirinya serta dengan dalil ini juga akan mendapatkan ketenangan dunia.  Agama seperti tali yang telah disambungkan dari puncak gunung, sehingga para pendaki dengan perantara tali tersebut mampu untuk naik ke atas gunung,  sebagai pengaman dari jatuh atau kecelakaan serta sebagai alat bantu naik. Begitu juga agama sebagai tali Allah yang kuat, dengan berpegang dengannya mampu mengantarkan kepada puncak keselamatan dan mendapatkan  kebaikan-kebaikan  yang pasti dan abadi serta telah bergerak pada puncak keamanan dan ke- tenangan jiwa. Yakni, juga seiring dengan ketenangan duniawi serta kebahagiaan akhirat: “ Barang- siapa yang berpegang pada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus….”  “Dan berpeganglah kalian  pada tali(agama) Allah dan janganlah bercerai berai…” (surat Al-Imran ayat 101 dan 103).                Adapun jika disandarkan pada maslahat kelompok: Agama, khususnya agama Islam. Adalah agama untuk masyarakat dan juga bermanfaat atas sebuah masyarakat  yang  berjalan menurut maslahat-maslahat dunianya, juga melalui jalan agama  akan menjamin maslahat-maslahat tersebut (alhasil, pembahasan di atas berhubungan dengan agama).  
Pengorbanan untuk menjaga maslahat    
Dari sisi ini mampu diterima secara rasional, yang mana agama akan menjamin maslahat bagi manusia. Pengorbanan pada jalan agama sangatlah berarti. Jika masyarakat ingin memperoleh maslahat ini maka harus berpegang pada agama. Untuk menjaga agama harus memberikan sumbangan yang diperlukan. Terkadang sumbangan itu berupa jiwa manusia. Dari sisi ini haruslah menjaga bahwa sumbangan yang telah diberikan tidaklah harus mendapatkan faedah yang dihasilkan. Seorang komandan pasukan akan berfikir mengenai tujuannya dalam berperang, menjaga jiwa kelompoknya dan menyelamatkan mereka dari serangan musuh. Jika tidak dipimpin, maka pasukannya akan banyak yang terbunuh. Adapun seorang komandan mampu menyelamatkan mereka, dan untuk menyelamatkan mereka semua haruslah menjaga perintahnya. Dan ini adalah rasional, bahwa mereka mengorbankan beberapa oranga dari anggota pasukan untuk menjaga dan menyelamatkan yang lain.dan memikul tanggungjawab penjagaan atas perintah komandan serta menjaga keselamatan dirinya sebelum ajal menjemputnya. Benar, bahwasaanya seorang komandan untuk menyelamatkan pasukannya, tidaklah kebalikannya. Adapun  untuk merealisasikan perkara ini terkadang dianggap perlu yang menjadikan ketaatan beberapa anggota pasukan kepada komandannya, hingga dengan menjadikan ia tetap hidup demi keselamatan pasukannya.
Olehkarena itu, dengan dasar  berfikir atas maslahat duniawi juga merupakan sebuah aturan yang ada pada agama, juga perhitungan untung dan ruginya haruslah dengan ketelitian, hingga pengorbanan di jalan agama mempunyai makna dan kematian menuju syahadah atas orang-orang  yang dimuliakan di jalan agama, pada dasarnya adalah jalan untuk menjamin maslahat-maslahat manusia. Begitu juga dengan kelanggengan agama ini dapat menjamin maslahat-maslahat mereka. Untuk itu, dorongan memperkuat sisi  ruhani syahadah bukanlah dengan pengertian penilaian yang tidak berharga atas jiwa manusia. Akan tetapi, mempersiapkan pada diri manusia untuk menjamin maslahat atas dirinya
Kesempurnaan manusia melalui jalan pengorbanan.  Oleh karenanya, tidak ada satu ketetapan atas dalil yang disebutkan yang mampu mengklaim bahwa jiwa manusia tidak bernilai.  Atau manusia melakukan pengorbanan demi agama. Atas dasar ini bahwa yang mengatas namakan agama, bukanlah dengan dalil lain sebagai sebuah kebenaran atau maslahat atas diri manusia.      Jika menjadikan pengorbanan di jalan agama sebagai sebuah wasiat. Dalam kenyataannya, hal tersebut dalam berwasiat untuk kesempurnaan dirinya dan menyampaikannya menuju jalan kebahagiaan. Permintaan atas syahadah  bukanlah tanpa nilai. Akan tetapi, sampai pada satu tingkatan hingga batasan yang mana Tuhan dengan dalil ruhaniyah syahadah ini, membanggakannya atas para malaikat. Para syahid dan pembela di jalan agama, mereka sendiri akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi, bumi terjaga, juga kelestarian agama serta akan mempersiapkan kepada kebahagiaan yang lain. 

Agama Untuk Manusia Atau Manusia Untuk Agama?


Mereka menyadari akan tuntutan di masa modern, yakni manusia menginginkan  segala  sesuatu. Termasuk  manusia menginginkan agama. Padahal menurut pandangan klasik, mereka memandang manusia untuk agama. Mereka mengatakan bahwa didalam pandangan klasik terhadap agama, manusia memandang  tinggi agama dan akidah. Dengan dalil ini, manusia menjunjung tinggi akidah dan menjadikan jiwa lahiriyah mereka tiada  bernilai, serta dengan mudah mereka akan mengorbankan jiwanya itu demi agama. Adapun di masa modern, manusia menempatkan dirinya lebih tinggi atas akidahnya.  Ini tidak berarti bahwa manusia akan mengorbankan dirinya demi akidahnya, juga tidaklah menjadikan jiwanya terbunuh atas dasar akidah yang dianutnya.             
          Tiada diragukan di masa modern bahwa manusia lebih terhormat atas pemikirannya. Hal ini dapat ditinjau dari: Pertama, argumentasi apa yang meletakkan manusia lebih terhormat atas pemikirannya? Kedua, apakah juga demikian halnya menurut pandangan klasik atau bertentangan? Adapun di masa modern manusia telah menemukan kehormatan dirinya dan meletakkan kedudukan rendah atas pemikirannya, dari sisi akibat  perkara yang terlupakan oleh manusia.  Dari sisi lain, sebagai akibat dari pengetahuan manusia yang telah hilang kebenarannya. Manusia modern,  menyakini pengetahuan yang nisbi, hingga tidak mungkin berharap pemikirannya tersebut akan bernilai dan akan sampai pada titik terendah dari manusia. Jika  manusia  menemukan sebuah hakikat dari pemikirannya, akan mengantarkannya pada kemuliaan dan  terjaga kehormatannya. Hingga mungkin akan menjadikan pemikirannya lebih mulia dari dirinya.Adapun pemikiran klasik yang tersebar, telah menemukan nilainya yang sangat berharga dalam sejarah manusia. Tidaklah hal tersebut berlaku atas pemikiran di masa modern. Oleh karenanya, terdapat sebuah kesalahan atas misi pengajaran yang disampaikan di masa modern, yakni pada masa sebelum pembaharuan Eropa, mempengaruhi  misi pengajaran yang disampaikan  atas semua budaya dan negara. Sehingga akan memaksakan kesulitan yang sama atas semua hukum yang berlaku di Eropa pada abad pertengahan. Ini adalah hasil sebuah makar yang diciptakan oleh para atheis, yang menjadikannya sebuah fenomena di dunia modern, yang mengharuskan penyelesaiannya. 
Motivasi Manusia 
Sebelum memaparkan hal di atas, perlu untuk memperhatikan beberapa mukaddimahnya. Setiap perkara yang dilakukan oleh manusia, tidaklah terlepas dari  dua hal: apakah perkara yang dilakukan tersebut berdasarkan kebenaran atau berdasarkan maslahat ? Dengan kata lain, motivasi (dorongan) kerja manusia ada dua bentuk: mencari sebuah kebenaran dan berfikir secara maslahat. Ketika saya mengerjakan shalat, apakah saya telah menemukan Tuhan yang memang layak disembah ? atau melalui jalan ini Dia ingin disembah (motivasi mencari kebenaran) atau dengan sebab tadi, shalat akan menjadikan keselamatan baginya (motivasi berfikir maslahat).   Jika saya tidak berkata bohong. Dengan dalil ini, berbohong adalah salah (menuntut kebenaran). Atau dengan dalil tadi, berbohong menyebabkan azab yang pedih (motivasi berfikir secara maslahat). Berdasarkan dua prinsip tadi kita akan memberikan dua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas: 
1. Mencari Kebenaran             
Pencari kebenaran terbentuk dari tiga perkara: 1. Kecenderungan 2. Pandangan 3. Metode. Hakekat pencari kebenaran akan ditemukan sesuai dengan tiga bentukan ini: 1. Aliran kebenaran.   2. Kebenaran yang yakin. 3. Kebenaran sebagai tolak ukur. Manusia dalam mencari kebenaran melalui tiga bentuk yang berada dalam dirinya, yakni hati sebagai pusatnya niat atau maksud dan mencintai dan membenci manusia. Otak yang mana sebagai pusat pandangan-pandangan manusia. Fenomena sebagai tempat metode-metode amal perbuatan dan tingkah laku manusia untuk menetapkan sebuah hakekat. Cinta dan benci pada manusia hanya berdasarkan kebenaran dan hakekat (aliran kebenaran), selain dari keyakinan-keyakinan yang benar maka iman tidak bisa didatangkan dan juga menerima setiap keyakinan yang benar (kebenaran yang yakin) dan selalu berdiri dengan kebenaran dan sebab-sebabnya. Dan dalam sisi pengamalan, mereka tidak akan berpaling. Dan prilaku mereka hanya berdasarkan atas hakekat (kebenaran sebagai tolak ukur). Alias sebagai tauladan pencari kebenaran.
Tauladan tertinggi manusia sebagai pencari kebenaran adalah Ali Bin Abu Thalib as, yang mana didalam segala sesuatu berpegang pada kebenaran, dan tidaklah mencintai sesuatu selain kebenaran. Walaupun di dalam kewilayahan dan pemerintahan. Jika hal tesebut bukan sebuah kebenaran, maka atas  salah satu bagian dari sepatunya adalah sesuatu yang sedikit lebih berharga (khutbah 33). Setiap seorang akan mengetahui bahwa beliau adalah orang yang paling mulia diantara rakyat yang mana kebenaran di sisinya lebih ia cintai dari segala sesuatu (aliran kebenaran). Tidaklah menghukumi sesuatu menurut keyakinannya selain kebenaran dan kenyataan. Dan mengenal  kebenaran setiap saat serta tidak berhenti waktunya di dalam kebenaran (khutbah 4). Dalam sisi amal perbuatan, selalu dalam lingkaran kebenaran. Tidaklah hadir dalam dirinya suatu kebohongan untuk mendapatkan kedudukan khilafah ( dalam musyawarah pemilihaan setelah khilafah kedua), orang-orang kuat di sisi beliau menjadi lemah sehingga mereka mengembalikan  haknya (khutbah 37), beliau mengingatkan dengan bersumpah atas nama Tuhan bahwa untuk kebenaran dan kebebasan dari cengkraman kebatilan. Dan dalam setiap sesuatu yang dicampuradukkan dengan kebatilan, hendaklah hal tersebut diperangi (khutbah 104), dalam tolak ukur kebenarannya hingga dengan perkembangannya terhadap para penuntut hak lebih dan  yang keliru memaksa beliau melakukan tiga peperangan yang tidak inginkan, yang mengakibatkan jiwa beliau sendiri melayang atas dasar keadilan. Pengorbanan  di  Jalan Kebenaran             Ini adalah keadaan seseorang yang telah menemukan dan berpegang teguh kebenaran. Jika halnya seseorang telah menemukan kebenaran. Jika ia ingin mendapatkan kebenaran, haruslah juga berbuat demikian. Apakah  hakikat nilai penemuan kebenaran tidak ada, sehingga badan manusia perlu dikorbankan? Tentunya kesempurnaan manusia   selalu tegar dalam kebenaran dan berperang demi kebenaran ? tidaklah dari sisi kemanusiaan kita mempunyai tolak ukur kebenaran? Manusia adalah pencari kebenaran, kemanusiaan itu sendiri dalam kelompok pandangan kebenaran, kebenaran yang yakin dan kebenaran sebagai tolak ukur. Oleh karenanya, dalam penilaian esensi ini mengorbankan ikatan kemanusian secara materi pada dirinya.
 2. Berfikir maslahat          
Seseorang yang melakukan perbuaatannya berdasarkan prinsip  maslahat, harus memulai dengan pengenalan terhadap maslahat pribadinya. Kemudian akan mengetahui maslahat apa yang paling baik  bagi rakyat. Dan bagaimana akan mendapatkan maslahat itu, melalui jalan apa yang bisa menjauhkan diri dari perkara yang membahayakan serta akan mendekatkan pada perkara yang menguntungkan. Pada dasarnya, sesuatu apa yang menguntungkan dan permasalahan apa yang merugikan. Seseorang yang berpegang pada agama akan mengetahui bahwa Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Penyayang mengetahui maslahat sesuatu dan menginginkannya. Oleh karenanya, paling tingginya  tingkat maslahat pada-Nya akan menjamin suatu  kebaikan dalam ruang lingkup agama. Apabila  bagian dari maslahat ke depan dan yang terlewati tidak diketahui maka lebih diutamakan maslahat di dalam ketetapan agama dan maslahat terhadap amal perbuatan atasnya. Dikarenakan berpegang pada agama sebagai jalan keselamatan dan mengantarkan pada kebahagian dunia dan akhirat.               Alhasil, orang beragama akan menanti sebuah pengorbanan untuk mengantarkannya pada keselamatan. Dan ini adalah perbuatan  orang-orang yang berakal dan kemanusiaan. Dikarenakan, akan menjamin maslahat manusia pada jalan ini. Benar, akan hilang sebagian maslahat dunia, akan tetapi akan mendatangkan kebaikan yang abadi. Apakah jual beli dan perdagangan yang lebih besar dan menguntungkan dari hal ini? Allah Swt dalam al-qur’an berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih. Yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Shaf ayat 10 dan11)
Setiap dua individu manusia melalui jalan ini mampu mengantarkan jalan menuju maslahat akhirat dan mendapatkan keselamatan atas dirinya serta dengan dalil ini juga akan mendapatkan ketenangan dunia.  Agama seperti tali yang telah disambungkan dari puncak gunung, sehingga para pendaki dengan perantara tali tersebut mampu untuk naik ke atas gunung,  sebagai pengaman dari jatuh atau kecelakaan serta sebagai alat bantu naik. Begitu juga agama sebagai tali Allah yang kuat, dengan berpegang dengannya mampu mengantarkan kepada puncak keselamatan dan mendapatkan  kebaikan-kebaikan  yang pasti dan abadi serta telah bergerak pada puncak keamanan dan ke- tenangan jiwa. Yakni, juga seiring dengan ketenangan duniawi serta kebahagiaan akhirat: “ Barang- siapa yang berpegang pada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus….”  “Dan berpeganglah kalian  pada tali(agama) Allah dan janganlah bercerai berai…” (surat Al-Imran ayat 101 dan 103).                Adapun jika disandarkan pada maslahat kelompok: Agama, khususnya agama Islam. Adalah agama untuk masyarakat dan juga bermanfaat atas sebuah masyarakat  yang  berjalan menurut maslahat-maslahat dunianya, juga melalui jalan agama  akan menjamin maslahat-maslahat tersebut (alhasil, pembahasan di atas berhubungan dengan agama).  
Pengorbanan untuk menjaga maslahat    
Dari sisi ini mampu diterima secara rasional, yang mana agama akan menjamin maslahat bagi manusia. Pengorbanan pada jalan agama sangatlah berarti. Jika masyarakat ingin memperoleh maslahat ini maka harus berpegang pada agama. Untuk menjaga agama harus memberikan sumbangan yang diperlukan. Terkadang sumbangan itu berupa jiwa manusia. Dari sisi ini haruslah menjaga bahwa sumbangan yang telah diberikan tidaklah harus mendapatkan faedah yang dihasilkan. Seorang komandan pasukan akan berfikir mengenai tujuannya dalam berperang, menjaga jiwa kelompoknya dan menyelamatkan mereka dari serangan musuh. Jika tidak dipimpin, maka pasukannya akan banyak yang terbunuh. Adapun seorang komandan mampu menyelamatkan mereka, dan untuk menyelamatkan mereka semua haruslah menjaga perintahnya. Dan ini adalah rasional, bahwa mereka mengorbankan beberapa oranga dari anggota pasukan untuk menjaga dan menyelamatkan yang lain.dan memikul tanggungjawab penjagaan atas perintah komandan serta menjaga keselamatan dirinya sebelum ajal menjemputnya. Benar, bahwasaanya seorang komandan untuk menyelamatkan pasukannya, tidaklah kebalikannya. Adapun  untuk merealisasikan perkara ini terkadang dianggap perlu yang menjadikan ketaatan beberapa anggota pasukan kepada komandannya, hingga dengan menjadikan ia tetap hidup demi keselamatan pasukannya.
Olehkarena itu, dengan dasar  berfikir atas maslahat duniawi juga merupakan sebuah aturan yang ada pada agama, juga perhitungan untung dan ruginya haruslah dengan ketelitian, hingga pengorbanan di jalan agama mempunyai makna dan kematian menuju syahadah atas orang-orang  yang dimuliakan di jalan agama, pada dasarnya adalah jalan untuk menjamin maslahat-maslahat manusia. Begitu juga dengan kelanggengan agama ini dapat menjamin maslahat-maslahat mereka. Untuk itu, dorongan memperkuat sisi  ruhani syahadah bukanlah dengan pengertian penilaian yang tidak berharga atas jiwa manusia. Akan tetapi, mempersiapkan pada diri manusia untuk menjamin maslahat atas dirinya
Kesempurnaan manusia melalui jalan pengorbanan.  Oleh karenanya, tidak ada satu ketetapan atas dalil yang disebutkan yang mampu mengklaim bahwa jiwa manusia tidak bernilai.  Atau manusia melakukan pengorbanan demi agama. Atas dasar ini bahwa yang mengatas namakan agama, bukanlah dengan dalil lain sebagai sebuah kebenaran atau maslahat atas diri manusia.      Jika menjadikan pengorbanan di jalan agama sebagai sebuah wasiat. Dalam kenyataannya, hal tersebut dalam berwasiat untuk kesempurnaan dirinya dan menyampaikannya menuju jalan kebahagiaan. Permintaan atas syahadah  bukanlah tanpa nilai. Akan tetapi, sampai pada satu tingkatan hingga batasan yang mana Tuhan dengan dalil ruhaniyah syahadah ini, membanggakannya atas para malaikat. Para syahid dan pembela di jalan agama, mereka sendiri akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi, bumi terjaga, juga kelestarian agama serta akan mempersiapkan kepada kebahagiaan yang lain.